Kesehatan

Baca Buku Bisa Bikin Tidur Nyenyak, asal Bukan E-Book

Sunday, December 28, 2014



Cambridge, Susah tidur setelah seharian beraktivitas? Konon salah satu cara lama seperti membaca buku masih bisa diandalkan untuk mengatasi hal ini. Sebab membaca buku dipercaya dapat menyebabkan kantuk. Namun pastikan dulu jika buku yang Anda baca adalah buku yang sebenarnya, bukan E-book ya.

Tampaknya masih banyak orang yang percaya dengan manfaat membaca buku menjelang tidur ini. Sayangnya seiring dengan perkembangan teknologi, mereka jadi enggan membaca buku betulan, melainkan lebih memilih membaca electronik book atau biasa disebut e-book, salah satunya karena lebih praktis.

Padahal e-book hanya dapat dibaca lewat gadget seperti iPad atau tablet. Dan peneliti mengatakan membaca atau membuka-buka tablet maupun ponsel pintar menjelang tidur justru akan membuat seseorang tetap terjaga.

"Sebab pancaran warna biru dari layar perangkat elektronik akan merusak ritme alami tubuh yang sering kita sebut dengan ritme kikardian atau jam biologis tubuh. Jam biologis inilah yang akan mensinkronkan seluruh fungsi tubuh kita dalam 24 jam," terang ketua tim peneliti Dr Anne-Marie Chang

Sayangnya, lanjut Dr Chang, jam biologis tubuh ini mudah dirusak oleh pancaran cahaya warna biru yang biasa ditemukan pada ponsel pintar, tablet atau lampu LED.

Hal ini dibuktikan sendiri oleh tim peneliti gabungan dari Harvard Medical School dan Penn State University dengan mengamati 12 partisipan yang 'dikurung' dalam sebuah lab selama dua minggu. Lima hari pertama mereka diminta membaca e-book empat jam sebelum tidur, kemudian lima hari berikutnya percobaan diulangi, namun masing-masing partisipan diminta membaca buku betulan.

"Akibatnya mereka yang sering membaca e-book tak begitu mengantuk di malam hari dan butuh waktu lebih lama agar bisa tertidur lelap, tepatnya sekitar 10 menit lebih lama daripada yang baca buku. Ketika bangun di pagi hari pun, mereka tampak lebih lelah," katanya seperti dikutip dari BBC, Sabtu (27/12/2014).

Dari hasil pemeriksaan sampel darah juga ketahuan bahwa produksi hormon melatonin atau hormon tidur mereka berkurang drastis hanya karena membaca e-book. "Padahal kurang tidur dan turunnya produksi melatonin dalam tubuh telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko sakit jantung maupun gangguan metabolisme seperti obesitas dan diabetes, bahkan kanker," timpal ketua tim peneliti, Prof Charles Czeisler.

Namun hal berbeda diungkapkan pakar kesehatan tidur, dr Andreas Prasadja, MD, RPSGT. Menurutnya, salah satu penyebab utama insomnia adalah kebiasaan melakukan sesuatu di tempat tidur, semisal menaruh koleksi buku di kamar. Sebab ini mendorong seseorang untuk membaca di saat ia seharusnya memfokuskan diri untuk tertidur. Ini juga berlaku untuk kegiatan lainnya yang dapat mendistraksi perhatian.

"Jadi harusnya dipisahkan antara ruang kerja dengan ruang kamar. Ruang kamar khusus hanya untuk tidur," tutup dr Andreas.

(lil/ajg)

You Might Also Like

0 comments

SUBSCRIBE